RSS

1.3

Saat ini SMA Negeri 1 Bandung bisa di bilang layaknya sebuah pasar yang di penuhi dengan beribu pendagang yang menawarkan dagangannya dan juga di tambah dengan beribu - ribu pembeli yang sibuk dengan tawar - menawarnya yang akhirnya pun belum tentu membelinya. intinya hari ini banyak stan - stan penjual makanan berkerumun di pinggir lapangan. padahal ini kan masih sangat sangat dan sangat pagi. tapi para murid baru pun juga sudah sibuk membeli makanan - makanan itu. dalam hati aku cuma bisa bilang 'kok mau sih nih anak - anak berjubel - jubel cuma buat makanan kayak gitu aja? iuuuh'. tiba - tiba,,,,, 'bruuuk'

"Aw.... Punya mata apa nggak sih mian tabrak kayak gitu." umpat ku pelan - pelan.
"Oops... maaf... aku tadi buru - buru terus sambil lari - lari. dan aku juga nggak liat kamu."
"Heeemb..... iya deh... nggak papa..."
"Owh ya, kamu murid baru disini?" tanyanya.
"Iya. emank kenapa?"
"Nggak papa kok. kamu sendiri sekarang?"
"Umm.... aku sama temen ku kok. tapi gak tau tuh sekarang dia ada di mana."
"Owh.... Jahat banget sih kamu di tinggal sendirian. Btw, temenmu cewe?"
"Owh temen ku cowo. udah kenal dari TK looh... hehe... Owh ya, Aku Acha. kamu?"
"Kenalin, aku Niko. Anak XI Ipa 4."
"Um... salam kenal deh ya...."
"Iya. E... cha... aku duluan ya... udah di tunggu sama anak - anak nih."

Aku hanya bisa menganggukkan kepala saat itu, karena aku sendiri juga tidak tau harus bilang apa. dan yang ku tahu saat itu aku sendirian di halaman lapangan yang seluas lapangan golf ini. 'Oh God... Nata kemana sih?' dalam hati aku sudah mulai bergurumun tidak  karuan. bagaimana bisa aku di tinggal sendirian di sekolah baru yang semua orang juga pasti sudah tau kalo orang lagi sendirian di situ, pasti bakal terlihat seperti anak orang yang hilang dan tidak tahu arah pulang ke rumah.

'gedebuuuk.......'
"aw.... iih apaan sih ini. tadi udah ketabrak orang sekarang ke tabrak lagi. gak punya mata apa." umpat ku dengan sangat keras dan sangat sangat dan sangat terlihat geram. sudah dua kali aku di tabrak seperti ini. dan itu sangatlah menyebalkan.
"Marah - marah mulu ih" kata anak yang sudah menabrak ku barusan. dan saat aku menoleh ke arahnya,
"Nata...... Ihh.... kamu itu kemana aja sih. aku itu nyariin kamu. kamu tau nggak sih, aku tuh kayak orang ilang tau kamu tinggal sendirian di sini."
"Iya iya.... maaf... aku tadi beli makanan. Nih buat kamu." katanya seraya memberiku sebuah coklat cadburry kesukaan ku.
"Um... hehehe.... makasi ya Nata... Baik deh."
"Huuuu..... Masih marah nggak nih?"
"Nggak kok."

setelah kejadian coklat ini, aku dan Nata pun langsung berlalu menuju kelas yang sudah di tentukan sebelumnya. Dan saat itulah kami terpisah pula karena kelas kami yang berbeda.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2.1


Yah... ini lah gue. Nathaniel Ardiansyah. Banyak orang manggil gue Nata. Singkat, padat, dan sangat sangat jelas. Tahun ini adalah tahun pertama gue sekolah di jenjang SMA. Lebih tepatnya di SMA Negeri 1 Bandung. Satu hal juga yang buat gue senang. Acha. Sahabat terbaik yang pernah gue punya selama ini. Sahabat yang saat gue benar – benar terpuruk bisa buat gue senyum lagi.
Hari ini adalah hari pertama gue masuk sekolah. Dengan seragam yang telah di sediakan mama, gue berangkat. Tanpa sarapan dan segelas susu hari itu tidak membuat gue lupa akan sesosok Acha. Karena gue udah kenal keluarga Acha juga sedari gue kecil, jadi gue tau sesibuk apa orang tua Acha saat pagi seperti ini. Secara spontanitas pun kaki gue pasti melangkah menuntun motor kesayangan gue menuju rumah di seberang rumah gue. Rumah bergaya klasik modern dengan tekstur warna yang sangat lembut.
Tepat setengah jam sebelum gue menjemput Acha, yang pasti gue udah bilang dulu dong sama mama tersayangnya Acha itu. dan untuk bilang itu pun juga tidak sesulit cowok lain yang nanti bakal ngajak Acha buat berangkat sekolah bareng. Itu karena..... gue kan udah kenal Acha dari kecil.
Tepat di depan rumah Acha. Terdengar gurauan yang sangat hangat antara Acha dan juga mama papanya. Dan sekejap setelah gue mengejapin mata gue, Acha sudah ada tepat di samping gerbangnya dengan mengenakan seragam putih abu – abu barunya. Seragam putihnya di buat sedikit press body dan roknya pun di buat sedikit di atas lutut. Dengan kaos kaki super putihnya yang hampir mencapai lutut dan juga sepatu kets ungu yang baru juga. Dan sejenak, gue perhatikan wajahnya yang semakin hari memang akan tetap terlihat ‘cantik’. Yaah..... Acha itu..... cantik. Nggak tau kenapa gue bisa bilang gitu. Dan gue sangat sangat yakin bahwa semalem gue gak mimpi apa – apa dan gue juga nggak habis kesambet setan jail yang coba ngegoda gue biar gue mau ngegoda Acha. Tapi, kok bisa gue bilang Acha cantik ya? Lupakan dah. Gak penting.
Gue berangkat menuju SMA Negeri 1 Bandung dengan Acha membonceng di belakang. Dan kebetulan di jenjang ini, gue satu sekolah lagi dengan Acha. Jadi ada kemungkinan besa jika gue bakal berangkat bareng terus sama cewek yang satu ini. Tapi ntah kenapa perasaan gue di perjalanan ke sekolah hari ini sedikit galau. Galau mood-on meeen...... pikiran gue saat itu seakan melayang ntah kemana. Dan seakan ruh gue sedang tidak berada di dalam tubuh gue. Dan itu membuat cewek diboncengan gue merasa aneh dengan gue. Dan gue baru sadar hal itu saat cewek itu bilang ke gue saat ini juga.
“Nat.... kamu kenapa sih? Dingin banget sikapanya?” tanyanya.
“A? Sorry Cha. Mood gue lagi down nih.”
“Uhm?”
“.....” gue hanya diem saat itu. gue gak tau harus bilang apa lagi ke cewek itu. dan mungkin sikap gue yang seperti ini bakal buat cewek di boncengan gue ini ikutan galau tingkat dewa. ‘sorry Cha. Gue gak ada maksud bikin lo jadi galau kok. Jangan pikirin gue dulu Cha.’ Batin gue saat itu juga. Gue paling nggak bisa liat cewek dalam boncengan gue ini galau dan akhirnya bisa bikin dia jadi nangis. Karena gue gak mau liat Acha nangis lagi..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1.2


Nata. 
Nathaniel Ardiansyah lebih tepatnya. Cowok kelahiran Sukabumi yang sejak berumur 5 tahun pindah ke Bandung dan bertempat tinggal di rumah bergaya klasik modern dengan tekstur warna putih gading yang berada tepat di sebrang rumah ku saat ini. Lahir pada tanggal yang sama di bulan yang sama namun berbeda taun saja. Cowok yang sangat suka menaiki sepeda gunungnya dengan kecepatan seperti kilat. Cowok yang suka mengajak ku bermain di trampolin berdiameter tidak besar dan juga tidak kecil. Cowok yang suka menemaniku menikmati indahnya suasana di sore hari.
Pertemuan ku dengan cowok yang sekarang bertubuh jenjang, berkulit putih namun tak seputih kulitku, serta cowok berwajah blasteran ini berawal dengan sangat – sangat – dan sangat menyedihkan. Tidak seperti pertemuan – pertemuan yang aku temui di banyak film – film roman.
Saat itu aku masih berumur 4 taun. Masih mau masuk TK. Ceritanya.........

“Acha..... ikut mama sebentar yuuk.... ada tetangga yang baru pindahan tuh....” sambut mama ku dengan hangat.
“Iiiih..... males ah ma.... mama aja deh yang kesana. Aku kan masih mau mainan barbie baru yang mama belikan kemarin.” Rengek ku karena aku benar – benar tidak ikut.
“Eeh.... Acha kecil kok bandel sih... ntar kalo kamu nggak mau kesana di kira kamu monster lho..... hihihii....”
“Ewwh... iya deh. Acha ikut mama. Emank rumahnya dimana sih ma?” tanya ku dengan muka yang menggemaskan seperti biasa. Hahahhaa.......
“Itu. di seberang rumah Acha. Deket kan? Udah deh yuuk...”
Mama ku pun menggandeng tangan kecil dengan boneka barbie di genggaman ku yang masih selembut sutra itu menuju rumah tetangga baru ku itu. memang benar yang dikatakan mama. Rumah itu tidak jauh. Malah sangat sangat dan sangat dekat. Hanya dengan 10 langkah saja aku dan mama ku sudah berada tepat di depan pagar megah bagai gerbang menuju taman permaisuri cantik yang di segani di negerinya. Pagar itu tinggiiii sekali. Itu gara – gara aku masih kecil begooo....... hehehe....
Seketika, setelah beberapa detik mama ku memencet bel, seorang anak laki – laki yang masih sama – sama kecilnya dengan ku membukan gerbang megah itu. tidak ada angin tidak ada hujan tiba – tiba anak laki – laki itu menatap ku dengan tatapan membunuh. Tanpa pikir panjang aku pun membalasa tatapannya dengan tatapan yang sama. Tak lama setelah kamu saling menatap, mama anak laki – laki itu keluar. Iaaaw...... mama nya cantik banget. Postur tubuhnya jenjang di tambah dengan sepatu highheels nya yang setinggi jengkalan tangan itu semakin membuat nya sulit untuk ku gapai. Kulitnya putih dan sangat cerah. Sama dengan anak laki – laki yang membukakan gerbang tadi.
Mama anak itu pun mempersilahkan kami untuk masuk ke rumahnya. Tapi karena aku tidak ingin masuk lebih dalam lagi ke rumah itu, aku hanya duduk – duduk di kursi yang di pasang di taman kecil di halaman depan rumah tersebut. Saat itu aku sangat sibuk dengan boneka barbie ku. Aku tidak peduli aku bermain sendiri atau bermain dengan siapa. Yang aku ingin saat itu adalah hanya bermain dengan boneka barbie pemberiaan mama tercinta ku. Tapi tiba – tiba saja segumpal coklat kental dan sangat sangat lembek itu menghujani ku bertubi – tubi. Hingga akhirnya gumpalan itu jatuh tepat di boneka barbie ku. Tepat saat itu juga aku merasa bahwa jantung ku berhenti berdetak. Aku serasa mati rasa dan serasa telah di sihir menjadi patung oleh penyihir jahat seperti yang ada di buku dongeng yang biasa di bacakan oleh mamaku sebagai cerita pengantar sebelum tidur. Dan akhirnya air yang tiba – tiba keluar dari kelopak mata ku itu menghujani pipi ku. Deras deras dan sangat deras. Eeewwh..... aku menangis sekuat tenaga hanya karena boneka barbie yang kemarin baru saja di belikan mama terkena segumpal coklat lembek yang ternyata merupakan lumpur dari tanah di taman itu yang terkena air yang tidak sengaja terlempar begitu saja dengan sekop yang di bawa anak laki – laki pembuka gerbang itu.
“Mamaaaa...... boneka ku maa......” rengek ku sambil tetap mengeluarkan air mata.
“Acha kenapa kok nangis?”
“Boneka ku ma. Kena lumpur nih. Gara – gara anak itu tuh ma....”
“Eeem... besok deh beli lagi. Yang ini di cuci aja dulu. Besok mama belikan yang baru deh.”
“Huaaaa...... nggak mau ma... Acha maunya yang ini.”
“Iiih.... boneka kena lumpur aja nangis. Cengeng banget jadi cewek.” Sergap anak laki – laki itu tiba – tiba.
“Pergi kamu pergi. Boneka barbie ku jadi nggak cantik lagi nih. Hikz hikz hikz... gara – gara kamu nih.”
“Iiih.... kok aku sih? Kamu itu yang cengeng. Kan mama mu sudah bilang kamu mau di belikan lagi. Gitu pake nangis lagi segala. Berisik tau.” Kata anak laki – laki itu seraya merebut boneka barbie yang saaat itu sedang ada di genggaman ku. Dalam hati aku sudah malah ingin menangis lebih kencang lagi. Dan setelah aku tau bahwa maksud anak itu mengambil boneka barbie itu adalah karena dia ingin mencucinya. Saat itu juga tangis tiba- tiba mulai mereda.
“Nih.. boneka kamu udah aku mandiin. Udah nggak kotor lagi.” Diberinya kembali boneka barbie ku.
“Makasi ya sudah mandiin boneka barbie aku. Jangan di kotor – kotorin lagi ya. Janji?”
“Iya deh. Janji. Maaf ya.”sambutnya dengan sebuah permintaan maaf.
“Iyaaa...... owh iya... aku kan udah nggak sedih. Nama ku Acha. Kamu siapa?”
“Aku Nata.”
“Dek Nata. Achanya pulang dulu ya. Besok main lagi.” Sergap tiba- tiba mama ku.
“Aku pulang dulu ya Nata.......” aku pun pulang dengan perasaan senang. Walau boneka ku tidak secantik awalnya, tapi aku sudah sangat senang karena anak laki – laki itu sudah mau mencuci boneka barbie yang telah dibuatnya kotor.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1.1

“Achaa..... Bangun Cha..... kamu nggak sekolah Cha?” tanya mama ku tercinta sampai berulang kali. Karena tidak ada jawaban dari ku, mama langsung membuka pintu kamar ku lembut dan akhirnya menarik selimut hangat ku.
“Acha.. Ayo bangun. Mandi sana. Masa perawan mama bangun nya siang – siang gini siih.” Sindir mama ku dengan lembut. “Ayo... Bangun iih...”
“Iih... Mama ganggu deh... Aku masih ngantuk banget tau ma. Sekarang kan masih jam 6.” Aku mulai sedikit menggerutu sambil mengucek – ngucek mata ku.
“Kamu nggak MOS Cha?”
“MOS nya kan jam 8 ma. Ntar aja mandinya. Jam 7 an gitu.”
“Iih... jam setengah 7 Nata mau ke sini lho Cha.” Sambil mengeluarkan senyuman jailnya mama ku menarik ku agar segera bangun.
“Apa? Kesini? Ngapain?” sungguh – sungguh kaget aku saat itu.
“Mau jemput kamu katanya. Siap – siap gih. Masa cantik – cantik gini belum mandi. Ntar bau lho..”
“iih.... iya deh ma. Kalo Natanya udah dateng bilang ya ma.” Mama ku tidak mengucapkan sepetah kata lagi. Beliau hanya menganggukkan kepala nya tanda bahwa beliau mengerti akan pinta ku. Bergegas aku mengambil seperangkat alat mandi ku pagi ini untuk sedikit memanjakan tubuh ku ini. Ini hari pertama ku masuk sekolah. Tepatnya di SMA Negeri 1 Bandung. Tempat Nata mendaftar sekolah pada hari....... (aku lupa harinya). Aku sungguh – sungguh tidak menyangka kalau ternyata sahabat ku itu di terima di sekolah itu juga. Jadi tidak perlu meminta waktu hanya untuk bertemu Cuma karena kangen berat atau karena lagi pengen ditemenin sama dia.
Lama aku membayangkan hal – hal yang akan menjadi kemungkinan untuk terjadi di sekolah nanti, ketukan pintu tiba – tiba terdengar.
“Nata udah datang Cha. Cepetan ya.”
“Iyaa Ma...” jawab ku dengan sedikit bertenaga karena takut mama tidak mendengarnya. Dan ku percepat mandiku. Ku ambil seragam putih abu – abu yang sedari tadi menunggu ku untuk menyambutnya. ‘hai putih abu - abu. Aku akan masuk ke kehidupan mu. Hahaha...’ ucap ku dalam hati. Segera ku kenakan baju nya yang masih putih dengan jahitan yang di buat sedikit press body dan juga rok abu – abunya yang hanya sepanjang lutut. Ini masih hari pertama ku masuk sekolah. Aku masih mengenakan seragam seadanya tanpa dandanan yang aneh – aneh karena memang masih belum di tentukan atau lebih tepatnya belum di suruh bawa aneh – aneh sama kakak OSIS.
Tanpa harus di suruh pun seperti biasa setelah semua seragam ku selesai ku kenakan dengan rapi, tak lupa cermin pun menjadi incaran ku berikutnya. Aku usapkan sedikit bedak dengan warna nude itu ke wajah ku. Ku pulaskan juga sedikit lipbalm ku yang berwarna senada. Ku biarkan rambut panjang dengan potongan shaggy itu tergerai hanya dengan hiasan bandana kecil warna ungu. Ku perhatikan sejenak bayangan diriku dalam cermin itu. ‘kamu udah beranjak dewasa ya Acha.’ Pekik ku dalam hati.
Lamunan kecil ku buyar seketika. Langsung ku ambil kaos kaki putih yang masih sangat sangt putih itu dan segera ku kenakan juga. Tak ketinggalan pula sepatu kets baru dengan ada sedikit corak ungunya yang kemarin di belikan papa.
Perlahan aku menuruni tangga agar suara sepatu ku tidak memenuhi semua ruangan di rumah dengan gaya klasik modern ini. Tepat saat aku ada di depan mama dan juga tidak ketinggalan papa ku, terlihat senyum bahagia tersirat di wajah mereka.
“Ih... anak papa udah gede ya ma.” Goda papa.
“Iya nih pa. Tambah cantik juga ya pa.”
“Hati – hati nanti banyak yang naksir lho ya. Hihihi...” ucap papa ku seraya menghampiri ku.
“Ih..... apa sih papa sama mama ini. Aneh – aneh aja deh. Lagian kalo ntar ada yang naksir aku kenapa coba?” jawabku sedikit melengos. Aku pun berpamitan dengan mereka. Hari pertama ku menginjakkan kaki ku di SMA Negeri 1 Bandung ini tidak di antar dengan orang tua ku. Aku malah di antar dengan sahabat ku yang memang kebetulan di terima di SMA itu juga.
Perjalanan menuju SMA N 1 Bandung dengan motor kesayangan Nata itu tidak terlalu jauh dari rumah ku. Hanya berkisar antara 6 – 7 kilometer saja. Jadi hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit untuk sampai disana. Namun dalam waktu 15 menit itu, tidak ada percakapan konyol seperti biasanya. Sepi. Namun aku harus terlihat ceria seperti biasa. Lagi pula aku juga sudah sangat sering melihat mimik muka Nata yang biasa bersikap dingin seperti ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Prolog


Hari ini tepatnya acara kelulusan di SMP Negeri 1 tempat ku bersekolah di adakan. Semua siswa maupun siswinya mengenakan seragam putih biru dengan lengkap dan juga sangat rapi pastinya. Kecuali siswa siswi yang mendapatkan mandat dari gurunya masing - masing untuk mengenakan kebaya di karenakan hasil UAN yang mereka capai bisa di bilang sangat memuaskan. Nggak kayak aku ini nih. Hahaha.... Baju biru putih saat itu sangat setia menemaniku. Walaupun beberapa jam kemudian baju putih biru hanya akan menjadi kenangan. Kenangan yang indaaah banget.
Tepat pukul 6.45 aku masih berada di rumah , sedangkan acara perpisahan akan di adakan tepat pukul tujuh. Waktu yang sedikit singkat itu membuat ku sedikit tergopoh - gopoh. Takut kalau aku sampai telat. Bisa di golok sama teman – teman aku (alay banget deh sampe di golok segala). Dengan gesit langsung aku berangkat ke sekolah bersama mama ku tercinta. Karena acara ini wajib di hadiri oleh orang tua murid juga.
Dari kejauhan mulai sedikit terlihat gerbang sekolah ku. Semakin lama semakin terlihat. Aku segera turun dari dalam mobil dan berlari menuju barisan kelas ku. Kulihat di sana teman – teman ku sudah bebaris rapi dengan pasangan mereka masing – masing. Dan dengan malunya hanya aku saja yang datang terlambat. Dengan rasa deg – degan, aku segera menghampiri mereka semua. Dan ternyata khayalan bodoh ku tadi pagi memang tidak mungkin terjadi. Mana mungkin teman – teman berani membunuh ku atau menerkam ku dengan sebuah golok. Aneh – aneh saja.
Tak lama setelah aku mengatur barisan ku, acara di mulai. Satu per satu kelas berjalan menuju barisan kursi yang terjajar rapi. Di setiap barisan depan, selalu di isi dengan siswa maupun siswi berkebaya yang mendapat kan nilai terbaik di kelas mereka. Di belakang mereka yang masih sangat setia dengan baju putih biru mereka dengan siap sedia mengawal siswa siswi berkebaya itu. Dan aku salah satu dari pengawal itu. Ngenes banget deh aku di situ. Dapet barisan paling belakang pula. Tapi bukan hal ini yang jadi masalah. Hanya satu yang wajib di perhitungkan. Memang ya, lamunan ku bisa sedikit menghancurkan rencana – rencana yang sudah di atur dengan baik.
“Acha.... jalan Cha.” Terdengar bisik – bisik merasuki diriku lewat lubang kecil di telinga ku.
“Ah.. Ya Allah. Maaf ya.” Pinta ku dengan muka yang sangat sangat merah bagai ayam yang di panggang dengan suhu 1000 derajat. (busyet dah. Bukan Cuma merah kalo itu. gosong item itu namanya. Hahaha....)
Tak lama kemudian, sampai lah di jajaran – jajaran kursi hijau yang bersih dan rapi. Satu per satu pula siswa siswinya duduk di sana. Aku mendapatkan tempat duduk di depan – tidak terlalu depan lebih tepatnya. Mulai dari pembukaan acara yang sedikit bisa di bilang krik - krik, pidato kepsek yang terkenal dengan ocehannya burung – lamanya minta ampun dan intinya sangat sangat bikin orang serasa mau mati karena nggak bisa dapet kasur enak buat nurutin maunya buat tidur nyaman, sampai acara resmi pun aku dan teman – teman ikuti dengan santai walaupun bisa sangat di ketahui kalo acara rada sedikit geje banjet. Acara pun di akhiri dengan adanya pensi. Ini nih yang di tunggu – tunggu dari tadi.
Seluruh siswa pun bubar tak karuan mencari anggota – anggota geng nya sendiri - sendiri. Dan setelah bertemu, mereka selalu memberi adegan berpelukan yang mesraaa banget (dih maksa banget deh). Bagaikan tidak di pertemukan beberapa abad saja mereka itu. Tapi aku pun tidak ketinggalan. Aku langsung berkumpul bersama teman – teman dekat ku. Memberikan selamat satu sama lain seraya bersiap – siap mengucapkan kata berpisah. Setelah itu, mengobrol adalah hal yang tidak mungkin terlewatkan di setiap pertemuan seperti ini. Mengobrol ntah apa yang di bicarakan. Yah. Itu lah seorang anak cewek. Suka banget deh kalo di ajak ngerumpi.
Dan seketika teriakan seorang dari kejauhan itu mengejutkan ku.
“Hi.. Acha..” sapanya sesosok yang sepertinya ku kenal itu dari kejauhan. Dia memanggilku seraya melambaikan tangannya dan melempar kan senyum manis nya padaku. Dalam hati ‘kayaknya aku kenal deh sama orang nggak punya malu ini. Masa teriak – teriak begitu sampe di liatin banyak anak juga nggak ngerasa. Pede banget ya. Diih’. Ku pandangi wajahnya dengan seksama. Seketika terbesit sebuah memori kecil yang mengingatkan akan suara dan gestur tubuh itu.
“Nata....!” Ku panggil dengan keras nama itu setelah aku tau bahwa sesosok dari kejauhan itu semakin dekat dengan tempat ku berada memang sahabat ku. Sehabat sejati aku. Hari ini dia datang untuk melihat ku melepaskan kenangan menggunakan baju putih biru ini. Terlihat wajah bangga, senang, (ntah apa lah itu) menghiasi wajah Nata saat itu. Dia memberiku selamat seraya menarik ku dalam pelukan hangatnya. Tanda bahwa dia ingin merayakan kelulusan ku ini juga.
Seusai acara pensi, aku segera meninggalkan sekolah tersayang ku ini. Dan secepat kilat berangkat menuju rumah makan yang biasa aku dan Nata datangi ketika sedang merayakan sesuatu. Perjalanan sambil di bonceng Nata dengan motor ninja merah kesayangannya saat itu, serasa seperti di bopong oleh banyak pengawal dengan melewati banyak pelangi warna – warni. Waaah.... khayal banget deh. Saking senangnya aku saat itu, aku sampai benar – benar lupa akan segalanya. Dan hanya sekedar ingin menikmati moment indah saat ini. Tidak ingin yang lain. Hanya ingin di saat moment indah ini aku bisa berdua dengan sahabat tersayang ku ini.
Tiba – tiba saja, samar – samar aku mendengar ada suara memanggilku.
“Acha... Acha....” dan semakin lama, suara itu semakin terdengar jelas setelah ada goncangan mendadak menyerang tubuh ku seraya mengoceh pelan. “Acha... wooi... jangan ngelamun mulu aah... mentang – mentang lagi seneng kerjaannya jadi ngelamun mulu.” Aaah... Nata membuat ku tersadar akan lamunan indah ku saat itu. pelayan dan pelangi – pelangi itu jadi hilang seketika.
“Ih.... Nata... ganggu aja deh. Nggak tau lagi ngelamun apa ya. Lamunan yang indah banget tau nggak. Kamu telah merusaknya tolol.” Sergap ku dengan sedikit mencibir.
“Ngelamun itu nggak baek dodol. Emang ngelamunin apa sih?” tanya Nata.
“Ngelamun aku lagi di bopong sama pelayan – pelayan yang kayak di tivi itu lewat pelangi – pelangi gitu. Sekarang jadi ilang deh pelayan sama pelangi – pelangi aku.” Cibir ku seketika tanpa memperhatikan Nata.
“Ya elah Cha... Aneh – aneh aja sih kamu ngelamunnya.” Kata Nata sambil geleng – geleng. Dalam hati aku berucap ‘namanya juga ngelamun. Mana ada ngelamun yang nggak aneh – aneh. Ooouups... ambigu deh’ .
“Pelayan sama pelangi – pelangi kamu nggak ilang kok. Pelayan kamu kan ada disini.” Katanya seraya menggamit tangan ku dan meletakkannya di dada bidangnya. “Kalo pelangi – pelanginya kan ada di mata kamu. Jadi nggak bakal ilang.” Ucap Nata lagi seketika sambil melempar kan senyum manis nya yang selama ini membuat ku jadi melting. Aku terhenyak beberapa detik tanpa tau maksud dari Nata.
Aah... terlalu banyak membicarakan mimpi – mimpi khayal itu di tempat parkir membuat ku dan Nata tidak masuk – masuk ke rumah makan yang tadi dituju. Dan itu semua membuat seorang pelayan tiba- tiba datang menanyakan kami berdua dan mengajak kami masuk serta memilih kursi untuk makan di tempat itu. Seketika setelah duduk, sesuatu mengejutkan ku. Nata ternyata memberiku surprise atas kelulusan ku ini. Dia mengeluarkan sekotak tidak besar dan tidak kecil terbungkus kertas kado lopek – lopek (gambar love itu lho. Yang gak tau bahasa alay berarti ndeso. hehehe) dengan pita ungu terikat di tepi kotak itu. sayang saja, dia tak langsung memberikannya pada ku.
“Ntar aja kalo udah sampe rumah aku kasih kadonya ke kamu.” Kata Nata sambil tersenyum dan mengusap rambut ku lembut.
“Kenapa harus di rumah? Nggak seru iih Nata” sambil memonyongkan sedikit bibir ku.
“Kalo aku kasih di sini, ntar jadi nggak surprise banget Acha.”
“Emang isinya apa siih? Bisa di makan nggak?”
“Makanan mulu deh Cha pikiran mu. Ini nggak bisa di makan.” Cibir Nata.
“Berarti benda ya?”
“Ya iya lah tolol. Nggak mungkin kan kalo kotaknya aku isi jin.” -__-
“Iiih... isinya apa siih.?? Penasaran tau Nat.”
“Ada deh. Udahlah Cha. Ntar aja kalo udah nyampe rumah kamu.”
“Emang kenapa sih kalo di sini? Bikin orang penasaran itu nggak boleh lho Nat”
“Suka – suka aku ya Cha.” Katanya sambil menjulurkan lidah. Jaddi gemes aku liatnya.
“Itu isinya bukan bom kan?”
“Bukan lah.. Ngayal banget kamu Cha. Hahaha. Udah deh Cha... Ntar kamu kaget kalo aku kasih sekarang.” Ucap Nata dengan ekspresi yang tidak bisa di baca sama sekali.
Dan dia semakin membuat ku penasaran dengan isi kotak yang tidak besar dan tidak kecil itu. Tanpa pikir panjang, aku pun segera merebutnya dari genggaman Nata. Dan Nata pun akhrinya terlihat pasrah. Perlahan aku lepas pita yang terikat rapi dan indah itu. Kubuka kertas kado yang membungkus kotak itu.
“Nataa......” teriak ku girang. “makasi ya.... aku gak nyangka kamu bakal ngasih ini ke aku.” Sebuah gantungan boneka yang sedari dulu aku inginkan dia berikan saat hari kelulusanku. Siapa yang tidak bahagia.
“Sama – sama Acha. Di jaga ya gantungan bonekanya. Awas kalo sampe rusak. Apalagi sampe ilang. Aku cekik kamu ntar.” Pekiknya seraya mengusap kepala ku pelan.
“Nggak bakal rusak, kok. Bakal aku simpen baik – baik kok kado kamu. Makasi ya Nata.” Aku hanya bisa tersenyum bahagia saat itu, dan ku rasa Nata juga ikut tersenyum melihat ku bahagia saat ini.
“Udah puas nih udah tau isi kadonya?” Nata menyengirkan wajahnya.
“Puas kok Nat. Kamu nih, Cuma gini aja kok susah banget sih. Makasi lagi ya Nat.”
“Jauh – jauhin deh tuh boneka kecil dari tangan jail adek lho itu. oke?”
“Suip deh...”
“......” Seketika kecupan hangat itu meluncur di kening ku. Hangat. Walau hanya beberapa detik, tapi kecupan singkat itu masih sangat terasa di kening ku ini. Aku hanya bisa tersenyum bahagia saat itu. Dan dengan wajah yang sedikit terlihat seperti orang bingung yang habis kecolongan sesuatu itu, aku menatap wajah Nata. Dan ku pandang lekat – lekat mata coklatnya yang menawan itu. tersenyum sepertinya adalah yang lebih baik di lakukan dari pada harus terlihat kikuk seperti ini.
Saat ini adalah moment terindah dalam hidup ku. Sahabat tersayang ku berada di depan ku merayakan hari kelulusan ku bersama ku. Nata – yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Selalu ada saat aku benar – benar di landa hal besar yang tak bisa aku selesaikan sendiri. Nata – yang ..... ntah lah. Aku hanya ingin Nata menjadi sahabat ku sampai kapan pun. Aku selalu berdoa tidak ada yang bisa merubah persahabatan ku dengan Nata. Aku ingin persahabatan ini ada sampai kapan pun. My lovely bestfriend.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS