Nata.
Nathaniel Ardiansyah lebih tepatnya. Cowok kelahiran
Sukabumi yang sejak berumur 5 tahun pindah ke Bandung dan bertempat tinggal di
rumah bergaya klasik modern dengan tekstur warna putih gading yang berada tepat
di sebrang rumah ku saat ini. Lahir pada tanggal yang sama di bulan yang sama
namun berbeda taun saja. Cowok yang sangat suka menaiki sepeda gunungnya dengan
kecepatan seperti kilat. Cowok yang suka mengajak ku bermain di trampolin
berdiameter tidak besar dan juga tidak kecil. Cowok yang suka menemaniku
menikmati indahnya suasana di sore hari.
Pertemuan ku dengan cowok yang sekarang bertubuh
jenjang, berkulit putih namun tak seputih kulitku, serta cowok berwajah
blasteran ini berawal dengan sangat – sangat – dan sangat menyedihkan. Tidak
seperti pertemuan – pertemuan yang aku temui di banyak film – film roman.
Saat itu aku masih berumur 4 taun. Masih mau masuk TK.
Ceritanya.........
“Acha..... ikut
mama sebentar yuuk.... ada tetangga yang baru pindahan tuh....” sambut mama ku
dengan hangat.
“Iiiih.....
males ah ma.... mama aja deh yang kesana. Aku kan masih mau mainan barbie baru
yang mama belikan kemarin.” Rengek ku karena aku benar – benar tidak ikut.
“Eeh.... Acha
kecil kok bandel sih... ntar kalo kamu nggak mau kesana di kira kamu monster
lho..... hihihii....”
“Ewwh... iya
deh. Acha ikut mama. Emank rumahnya dimana sih ma?” tanya ku dengan muka yang
menggemaskan seperti biasa. Hahahhaa.......
“Itu. di
seberang rumah Acha. Deket kan? Udah deh yuuk...”
Mama ku pun
menggandeng tangan kecil dengan boneka barbie di genggaman ku yang masih
selembut sutra itu menuju rumah tetangga baru ku itu. memang benar yang
dikatakan mama. Rumah itu tidak jauh. Malah sangat sangat dan sangat dekat.
Hanya dengan 10 langkah saja aku dan mama ku sudah berada tepat di depan pagar
megah bagai gerbang menuju taman permaisuri cantik yang di segani di negerinya.
Pagar itu tinggiiii sekali. Itu gara – gara aku masih kecil begooo....... hehehe....
Seketika,
setelah beberapa detik mama ku memencet bel, seorang anak laki – laki yang
masih sama – sama kecilnya dengan ku membukan gerbang megah itu. tidak ada
angin tidak ada hujan tiba – tiba anak laki – laki itu menatap ku dengan
tatapan membunuh. Tanpa pikir panjang aku pun membalasa tatapannya dengan
tatapan yang sama. Tak lama setelah kamu saling menatap, mama anak laki – laki
itu keluar. Iaaaw...... mama nya cantik banget. Postur tubuhnya jenjang di
tambah dengan sepatu highheels nya yang setinggi jengkalan tangan itu semakin
membuat nya sulit untuk ku gapai. Kulitnya putih dan sangat cerah. Sama dengan
anak laki – laki yang membukakan gerbang tadi.
Mama anak itu
pun mempersilahkan kami untuk masuk ke rumahnya. Tapi karena aku tidak ingin
masuk lebih dalam lagi ke rumah itu, aku hanya duduk – duduk di kursi yang di
pasang di taman kecil di halaman depan rumah tersebut. Saat itu aku sangat
sibuk dengan boneka barbie ku. Aku tidak peduli aku bermain sendiri atau
bermain dengan siapa. Yang aku ingin saat itu adalah hanya bermain dengan
boneka barbie pemberiaan mama tercinta ku. Tapi tiba – tiba saja segumpal
coklat kental dan sangat sangat lembek itu menghujani ku bertubi – tubi. Hingga
akhirnya gumpalan itu jatuh tepat di boneka barbie ku. Tepat saat itu juga aku
merasa bahwa jantung ku berhenti berdetak. Aku serasa mati rasa dan serasa
telah di sihir menjadi patung oleh penyihir jahat seperti yang ada di buku
dongeng yang biasa di bacakan oleh mamaku sebagai cerita pengantar sebelum
tidur. Dan akhirnya air yang tiba – tiba keluar dari kelopak mata ku itu
menghujani pipi ku. Deras deras dan sangat deras. Eeewwh..... aku menangis sekuat
tenaga hanya karena boneka barbie yang kemarin baru saja di belikan mama
terkena segumpal coklat lembek yang ternyata merupakan lumpur dari tanah di
taman itu yang terkena air yang tidak sengaja terlempar begitu saja dengan
sekop yang di bawa anak laki – laki pembuka gerbang itu.
“Mamaaaa......
boneka ku maa......” rengek ku sambil tetap mengeluarkan air mata.
“Acha kenapa
kok nangis?”
“Boneka ku ma.
Kena lumpur nih. Gara – gara anak itu tuh ma....”
“Eeem... besok
deh beli lagi. Yang ini di cuci aja dulu. Besok mama belikan yang baru deh.”
“Huaaaa......
nggak mau ma... Acha maunya yang ini.”
“Iiih....
boneka kena lumpur aja nangis. Cengeng banget jadi cewek.” Sergap anak laki –
laki itu tiba – tiba.
“Pergi kamu
pergi. Boneka barbie ku jadi nggak cantik lagi nih. Hikz hikz hikz... gara –
gara kamu nih.”
“Iiih.... kok
aku sih? Kamu itu yang cengeng. Kan mama mu sudah bilang kamu mau di belikan
lagi. Gitu pake nangis lagi segala. Berisik tau.” Kata anak laki – laki itu
seraya merebut boneka barbie yang saaat itu sedang ada di genggaman ku. Dalam
hati aku sudah malah ingin menangis lebih kencang lagi. Dan setelah aku tau
bahwa maksud anak itu mengambil boneka barbie itu adalah karena dia ingin
mencucinya. Saat itu juga tangis tiba- tiba mulai mereda.
“Nih.. boneka
kamu udah aku mandiin. Udah nggak kotor lagi.” Diberinya kembali boneka barbie
ku.
“Makasi ya
sudah mandiin boneka barbie aku. Jangan di kotor – kotorin lagi ya. Janji?”
“Iya deh.
Janji. Maaf ya.”sambutnya dengan sebuah permintaan maaf.
“Iyaaa......
owh iya... aku kan udah nggak sedih. Nama ku Acha. Kamu siapa?”
“Aku Nata.”
“Dek Nata.
Achanya pulang dulu ya. Besok main lagi.” Sergap tiba- tiba mama ku.
“Aku pulang dulu ya
Nata.......” aku pun pulang dengan perasaan senang. Walau boneka ku tidak
secantik awalnya, tapi aku sudah sangat senang karena anak laki – laki itu
sudah mau mencuci boneka barbie yang telah dibuatnya kotor.






